Perkembangan Pers di Indonesia

Perkembangan pers di tanah air:

  1. Zaman Belanda[1]

Pers di Indonesia pada masa penjajahan Belanda lebih banyak diarahkan pada propaganda melawan penjajahan Belanda.

Media massa resmi pertama yang diterbitkan di Indonesia adalah Bataviasche Nouvelles pada 1744 dengan bahasa Belanda.

Secara umum, isi surat kabar dan majalah Hindia Belanda berhaluan politik netral. Namun, sejak akhir abad 19 mulai tampak adanya tulisan yang bercorak politis. Banyak tulisan yang bersikap kritis terhadap politik kolonial Belanda di Indonesia. Pada periode 1854-1860 terbit surat kabar berbahasa Melayu yakni Slompret Melajoe.[2]

Jika awalnya pers pada masa penjajahan Belanda merupakan bisnis dari orang-orang Belanda yang datang ke Indonesia, maka dalam perkembangannya, pers di tanah air juga tidak terlepas dari peran serta pers yang dikendalikan oleh peranakan Tionghoa.

Munculnya pers peranakan Tionghoa mula-mula dalam bahasa Melayu-Tionghoa karena perantauan Tionghoa tidak dapat menggunakan bahasa Tionghoa. Jika media massa yang digawangi oleh orang-orang Belanda bersifat membela kepentingan kolonial maka surat kabar yang digawangi oleh peranakan Tionghoa mencerminkan adanya kesadaran nasionalisme Tionghoa dan membela kepentingan Tionghoa.[3]

Douwes Dekker menilai kedudukan pers berbahasa Melayu (juga dikenal dengan pers bumiputera) lebih penting daripada pers Belanda karena dapat langsung menarik pembaca bumiputera.[4]

Pers Melayu yang tertua ialah Bintang Soerabaja (1861). Isinya menentang pemerintah Belanda. Sedangkan yang disebut sebagai pelopor pers nasional adalah Medan Prijaji (media yang terbit mingguan) yang terbit 1907 dengan pemimpin redaksi R.M. Tirtoadisuryo.[5] Medan Prijaji ini menjadi surat kabar dengan jurnalisme politik.

Tahun 1931, pemerintah kolonial melahirkan Persbreidel Ordonnantie (7 September 1931) yang menegaskan Gubernur Jendral diberi hak untuk melarang terbitnya penerbitan tertentu yang dinilai bisa mengganggu ketertiban umum.[6] Ada pula tindakan terhadap pers yang disebut Haatzaai Artikelen.

Di zaman pemerintahan kolonial, larangan terbit jelas ditentukan berapa lama berlangsungnya. Untuk pelanggaran pertama biasanya ditentukan selama 8 hari. Sedangkan untuk pelanggaran berikutnya, bisa sampai satu bulan.[7]

 

  1. Zaman Jepang

Pers pada masa ini hanya digunakan untuk kepentingan propaganda balatentara Jepang guna menunjang perjuangan Jepang. Jumlah surat kabar yang terbit pun dibatasi dan semua berada di bawah pengawasan ketat penguasa militer.

Surat kabar Indonesia yang terbit pertama kali adalah Asia Raya (29 April 1942). Dengan tujuan sebagai alat propaganda utama penguasa Jepang.[8]

Ada pula UU no. 16 yang menunjukkan berlakunya sistem izin terbit dan sensor preventif yang meliputi semua penerbitan. Selain itu masih ada tindakan lain, yakni menempatkan shidooin (penasihat) dalam redaksi yang sebenarnya bertugas melakukan kontrol langsung.[9] Bahkan tidak jarang, mereka juga menulis pada media tersebut.

 

  1. Zaman Kemerdekaan

Pada masa ini, pers sering disebut sebagai pers perjuangan. Pers Indonesia menjadi salah satu alat perjuangan untuk kemerdekaan bangsa Indonesia. Beberapa hari setelah teks proklamasi dibacakan Bung Karno, terjadi perebutan kekuasaan dalam berbagai bidang kehidupan masyarakat, termasuk pers.

Organisasi wartawan pertama yakni Persatuan Wartawan Indonesia lahir 9 Februari 1946.

 

  1. Zaman Orde Lama

Pembredelan pers banyak terjadi setelah berlakunya SOB (Staat van Oorlog en Beleg/ undang-undang negara dalam keadaan bahaya, 14 Maret 1957).

Beberapa media yang dibreidel pada masa itu adalah: Suara Maluku di Ambon (15 Januari 1958); Suara Andalas di Medan (30 Januari 1958); Keng Po di Jakarta (21 Februari 1958); Tegas di Kutaraja (25 Februari 1958); Bara di Makassar (13 Maret 1958); Pedoman di Jakarta (22 Maret 1958); Kantor berita PIA, Indonesia Raya dan Bintang Minggoe di Jakarta (29 Mei 1958).

Penahanan terhadap wartawan pun banyak terjadi pada masa ini.

Kematian pers Indonesia ditandai dengan pemberlakuan Surat Izin Terbit (SIT) tanggal 1 Oktober 1957 oleh KODAM V Jakarta Raya.[10]

 

  1. Zaman Orde Baru

Orde Baru berlangsung dari tahun 1968 hingga 1998. Meski pada awal Orde Baru, pers sempat menikmati kebebasanya, namun pada era ini, kebebasan pers sangat terbatas, dan banyak terjadinya pembredelan media massa.

Pada era ini muncul idiom Pers Pancasila yang dirumuskan dengan menggunakan idiom pers yang bebas dan bertanggung jawab.[11]

Peristiwa yang paling fenomenal pada saat itu  adalah peristiwa Malari yang melibatkan pembredelan 12 media cetak. Kasus Malari yang terjadi pada 15 Januari 1974 itu mencatat begitu banyak korban jiwa dan kerusakan terjadi dimana-mana. Namun yang paling fenomenal sepanjang pembedelan media massa adalah pembredelan atau pencabutan SIUPP (Surat Izin Usaha Penerbitan Pers) sejumlah media massa, antara lain Majalah Tempo, deTIK, dan Editor. Ketiganya ditutup penerbitannya karena pemberitaan yang tergolong kritis terhadap pemerintah.

Dari begitu banyaknya pembedelan yang terjadi pada masa orde baru, kasus pembredelan Tempo adalah yang paling menarik.

 

  1. Zaman Reformasi

Masa reformasi tidak bisa dilepaskan dari peran pers. Meski tidak dapat dikatakan bahwa pers yang menjadi ujung tombak reformasi, namun keberadaan pers dalam memberitakan perjuangan mahasiswa dan rakyat tidak dapat disepelekan.


[1] Tim Peneliti Sejarah Pers di Indonesia. 2002. Beberapa Segi Perkembangan Sejarah Pers di Indonesia. Jakarta: Kompas

[2] Ibid, hal. 49

[3] Ibid, hal. 52

[4] Ibid, hal. 61. Douwes Dekker (di kemudian hari dikenal dengan nama Dr. Danudirdja Setiabudi) merupakan mantan redaktur pembantu surat kabar Bataviaasch Niewsblad.

[5] Masduki. 2004. Kebebasan Pers dan Kode Etik Jurnalistik. Yogyakarta: UII Press, hal. 2

[6] Tim Peneliti Sejarah Pers di Indonesia. 2002. Beberapa Segi Perkembangan Sejarah Pers di Indonesia. Jakarta: Kompas, hal. 172

[7] Ibid, hal. 199

[8] Ibid, hal. 200

[9] Ibid, hal. 176

[10] Masduki. Kebebasan Pers dan Kode Etik Jurnalistik. 2004. Yogyakarta: UII Press, hal. 3

[11] Ibid, hal. 4

About these ads

About fannylesmana4communication

I'm a special and simple person. Reading is my habit that I always do in every single time that I have... Novel is the one I love. That's I want to share in this blog is just a little bit that I have known about communication (and journalism also).
This entry was posted in Jurnalistik Dasar. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s