Sistem Pers di Dunia

SISTEM PERS DUNIA

Sistem merupakan keterkaitan satu bagian dengan bagian yang lain meski tiap bagian tersebut berdiri sendiri dan memiliki fungsi masing-masing, namun terkait untuk tujuan yang telah ditentukan.

Sistem pers merupakan bagian dari sistem yang ada di seluruh dunia dan memiliki keterkaitan dengan sistem ekonomi, politik, hukum dan pelbagai sistem lainnya. Bahkan tak dapat dipungkiri, sistem pers sangat dipengaruhi maupun memengaruhi sistem-sistem yang lain.

Pola hubungan pers dan pemerintah di suatu negara erat kaitannya dengan sistem dan struktur politik yang berlaku dalam negara tersebut.

  1. Sistem Pers Authoritarian (Rachmadi, 1990)

Merupakan sistem pers tertua. Lahir pada abad 15-16 saat bentuk pemerintahan sebagian besar berbentuk otoriter (kerajaan absolut).

Media massa berfungsi menunjang negara dan pemerintah dengan kekuasaan untuk memajukan rakyat sebagai tujuan utama. Pemerintah langsung menguasai dan mengawasi kegiatan media massa. Kebebasan pers tergantung pada kekuasaan raja yang memiliki kekuasaan mutlak.

  1. Sistem Pers Libertarian (Rachmadi, 1990)

Berkembang pada abad 17-18 sebagai akibat timbulnya revolusi industri dan perubahan besar di dalam pemikiran masyarakat Barat – abad pencerahan.

Sistem ini berkembang karena adanya teori yang menyatakan manusia memiliki hak secara alamiah untuk mengejar kebenaran dan mengembangkan potensinya bila diberi kebebasan untuk menyatakan pendapat. Hal ini tidak mungkin terjadi bila terdapat kontrol dari pemerintah. Karenanya, pada sistem ini pers dianggap harus memiliki kebebasan yang seluas-luasnya untuk membantu manusia dalam usaha mencari kebenaran. Selain itu, kebebasan pers menjadi ukuran atas kebebasan yang dimiliki oleh tiap manusia.

  1. Sistem Pers Komunis (Rachmadi, 1990)

Berkembang pada abad 20 sebagai akibat dari sistem politik komunis yang berkembang di Uni Soviet.

Sama halnya dengan sistem politik komunis, sistem pers komunias ini juga mendasari diri pada teori Karl Marx. Media massa menjadi alat pemerintah (partai komunis) dan menjadi bagian integral dari negara. Artinya, media massa harus tunduk pada perintah dan kontrol dari pemerintah atau partai. Kritik diizinkan dalam media, tetapi kritik terhadap ideologi sangat terlarang. Jika media massa mendukung komunis, hal itu merupakan perbuatan bermoral, namun jika media massa merintangi pertumbuhan komunis, maka hal itu merupakan perbuatan immoral.

Lenin (tokoh komunis Rusia lainnya) berkeyakinan, pers harus selalu melayani kelas yang dominan dalam masyarakat, yakni kaum proletar yang diwakili oleh partai komunis. Karenanya, pers dijadikan sebagai alat indoktrinasi yang dilancarkan oleh partai.

Meski demikian, Uni Soviet selalu menyatakan adanya kebebasan pers di negara tersebut melalui Konstitusi Stalin 1936. Sistem pers komunis ini ambruk seiring dengan ambruknya sistem politik komunis di Eropa Timur pada 1991.

  1. Sistem Pers Tanggung Jawab Sosial (Rachmadi, 1990)

Muncul pada permulaan abad 20 sebagai protes terhadap kebebasan yang mutlak dari sistem libertarian. Dasar pemikiran teori ini adalah kebebasan pers harus disertai tanggung jawab kepada masyarakat.

Asumsi dari sistem ini adalah semua orang berhak menggunakan pers dan berhak mengeluarkan pendapatnya, namun tetap dibatasi pada aturan yang berlaku.

Sistem ini memiliki tiga prinsip yakni prinsip kebebasan dan pilihan individual; kebebasan media, serta kewajiban media terhadap masyarakat. Kontrol media dalam sistem pers ini dilakukan oleh undang-undang dan institusi sebagai pengatur kebebasan. Kontrol media juga dilakukan oleh masyarakat lewat opini publik atau konsumen.

5.

  1. Teori Pers Pembangunan

Dikaitkan dengan negara-negara dunia ketiga yang tidak memiliki ciri-ciri sistem komunikasi yang sudah maju seperti sumber daya dengan ketrampilan profesional, audiens yang tersedia, infrastuktur komunikasi.[1]

 

  1. Teori Pers Partisipan Demokratik

Lahir dalam masyarakat liberal yang sudah maju sebagai reaksi atas komersialisasi dan monopolisasi media. McQuail[2]melihat organisasi media terlalu dekat pada kekuasaan. Teori ini menyukai lokalitas, de-institusionalisasi, kesederajatan dalam masyarakat dan interaksi.


[1] Kusumaningrat & Kusumaningrat. 2005. Jurnalistik : Teori dan Praktik. Bandung: Remaja Rosdakarya, hal. 25

[2] Kusumaningrat & Kusumaningrat. 2005. Jurnalistik : Teori dan Praktik. Bandung: Remaja Rosdakarya, hal. 26

About these ads

About fannylesmana4communication

I'm a special and simple person. Reading is my habit that I always do in every single time that I have... Novel is the one I love. That's I want to share in this blog is just a little bit that I have known about communication (and journalism also).
This entry was posted in Jurnalistik Dasar. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s