Jurnalisme Baru

Berkembang di Amerika Serikat sekitar tahun 1960-an. Dirintis oleh wartawan senior karena kebosanan terhadap standar baru dalam melakukan tugas peliputan maupun penulisan berita khususnya dalam hal penulisan straight news.

Dalam jurnalisme baru ini, wartawan dapat membuat berita menjadi lebih luwes. Selain itu, pada era jurnalisme  baru ini, wartawan dapat berfungsi menciptakan opini publik dan meredam konflik yang terjadi di tengah masyarakat.

 

RAGAM JURNALISME BARU[1]

Beberapa ragam jurnalisme baru yang berkembang adalah:

  1. Jurnalisme empati

Erat kaitan dengan rasa empati dan iba dalam diri wartawan yang tumbuh ketika melakukan tugas jurnalistik. Untuk menerapkan teknik jurnalisme ini, wartawan harus mendekatkan diri pada narasumber untuk mendapat informasi. Dengan jurnalisme empati, wartawan dapat lebih leluasa mengasah kepekaan nurani untuk meliput dan memberitakan suatu peristiwa penting yang terjadi dalam masyarakat.

 

  1. Jurnalisme perang

Karakteristik hanya memberitakan pertikaian di tengah masyarakat dan lebih berorientasi pada peristiwa kekerasannya seperti pada tempat terjadinya konflik, dampak fisik dari kasus tersebut.

Jurnalistik kekerasan lebih mengeksploitasi kekerasan yang tampak dibanding efek kekerasan yang tidak tampak. Teknik yang digunakan adalah violence journalism yang memungkinan wartawan larut dalam emosi untuk memihak pada salah satu pihak yang berkonflik. Wartawan memberi penilaian secara sepihak pada pihak yang jadi pemenang atau pecundang.

Cenderung menjadikan elit yang bertikai sebagai narasumber. Mereka akan menggunakan pernyataannya untuk menyerang atau melemahkan aspek psikologis pihak lawan. Sifat pemberitaan dalam jurnalisme kekerasan ini spekulatif dan provokatif. Akibatnya, rakyat atau korban pertikaian kurang mendapat tempat untuk mengeluarkan pendapatnya.

 

  1. Jurnalisme damai

Merupakan jurnalisme modern yang berpegang pada asas imparsialitas (kebenaran) dan faktualitas.

Bertujuan menghindari atau mencegah terjadinya kekerasan di dalam masyarakat. Mengajarkan wartawan untuk tidak turut menjadi bagian dari pertikaian, melainkan jadi bagian pencari solusi.

Wartawan mencari sumber dengan objektif agar realitas di benak pembaca tidak bias. Melihat pertikaian sebagai masalah dan berusaha mencari solusi melalui pemberitaan, melihat akibat dari pertikaian akan mengakibatkan kerusakan dan kerugian psikologis, budaya dan struktur dari kelompok masyarakat yang jadi korban konflik. Hal yang diungkapkan berasal dari kedua belah pihak. Dalam hal ini, wartawan harus bisa bersikap netral dalam melakukan pemberitaan.

Wartawan bertanggung jawab moral terhadap kebenaran informasi dan mengungkapkan informasi konflik, bukan dari sudut konflik. Mereka harus melihat akar permasalahan agar bisa dicari solusinya. Karena itu, wartawan mengandalkan kelengkapan data untuk mengungkapkan konflik kekerasan. Selain itu, wartawan dituntut arif mengungkap fakta apa adanya namun juga dituntut memberi bingkai pada fakta bahwa kekerasan hanya memunculkan penderitaan dan kehancuran.

 

  1. Jurnalisme Omongan (Talking Journalism)

Jurnalisme omongan adalah liputan berita dengan kutipan atas pernyataan seorang pakar atau tokoh yang dianggap berkompeten. Jurnalisme omongan tidak bisa dipegang kebenaran faktanya, terutama jika yang kerap diucapkan menggunakan kata ’mungkin’.

Dalam jurnalisme omongan, tidak semua ucapan narasumber adalah fakta atau kejadian. Fakta adalah sesuatu yang esensial, sedangkan ucapan seseorang belum tentu merupakan fakta.

 

  1. Jurnalisme advokasi

Kegiatan jurnalistik yang dilakukan oleh wartawan dengan cara menyuntikkan opini ke dalam berita. Berdasar hasil reportase, wartawan mengarahkan fakta untuk membentuk opini publik.

Wartawan memiliki ketrampilan menyajikan fakta hingga memunculkan liputan investigasi. Pemberitaan jurnalisme advokasi lebih ditujukan untuk suatu kepentingan tertentu. Contoh : pemberitaan tentang Prita Mulyasari yang dipidanakan kembali oleh Mahkamah Agung karena JPU mengajukan kasasi.

 

  1. Jurnalisme Alternatif

Dilakukan biasanya untuk penulisan yang menyangkut publikasi internal. Misalnya, memunculkan tulisan yang mengkritik pemberitaan yang bersifat personal.

Merupakan cerminan suara rakyat dan lebih diarahkan sebagai media perjuangan. Isi pemberitaan biasanya kritis terhadap kemapanan. Tidak memuat pernyataan pejabat melainkan menyuarakan dan berempati pada rakyat.

Pemerintahan Orde Baru tumbang karena kegiatan pers alternatif. Di sisi lain, pada masa pers alternatif berlangsung di Indonesia, banyak jurnalis yang dimejahijaukan lantaran dianggap menyimpang.

Mulanya adalah pembredelan Detik, Editor dan Tempo, 21 Juni 1994. Ketiganya dibredel karena pemberitaannya yang tergolong kritis kepada penguasa. Tindakan represif inilah yang memicu aksi solidaritas sekaligus perlawanan dari banyak kalangan secara merata di sejumlah kota. [2]

Selain demonstrasi dan mengecam tindakan represif terhadap media, organisasi yang dibidani oleh individu dan aktivis Forum Wartawan Independen (FOWI) Bandung, Forum Diskusi Wartawan Yogyakarta (FDWY), Surabaya Press Club (SPC) dan Solidaritas Jurnalis Independen (SJI) Jakarta ini juga menerbitkan majalah alternatif Independen, yang kemudian menjadi Suara Independen.

Gerakan bawah tanah ini menuntut biaya mahal. Tiga anggota AJI (Aliansi Jurnalis Independen), yaitu Ahmad Taufik, Eko Maryadi dan Danang Kukuh Wardoyo dijebloskan ke penjara, Maret 1995. Taufik dan Eko masuk bui masing-masing selama 3 tahun, Danang 20 bulan. Menyusul kemudian Andi Syahputra, mitra penerbit AJI, masuk penjara selama 18 bulan sejak Oktober 1996.

 

  1. Jurnalisme presisi

Kegiatan jurnalistik yang menekankan pada ketepatan (presisi) informasi dengan menggunakan laporan ilmiah. Tujuannya, hasil laporan lebih representatif. Liputannya pun menggunakan metode ilmiah yang terencana dan sistematis.

  1. Jurnalisme sastra

Berkembang pertama kali di Amerika Serikat. Dipelopori Tom Wolfe pada 1970-an.

Awalnya, bentuk jurnalisme sastra sangat sempit karena hanya terbatas pada adegan, sudut pandang orang ketiga dan subjek pendukung. Namun, kini bentuknya lebih mengarah pada reportase dimana semua fakta dibentuk dalam news story.

Bentuk ini membantu media cetak bersaing dengan media televisi karena gayanya yang lebih human interest. Jurnalis yang menggunakan bentuk ini diharapkan memiliki kemahiran dalam berbahasa. Gaya bahasa acap menggunakan gaya bahasa yang digunakan pada karya sastra, namun tidak harus dramatis.


[1] Setiati, Eni. 2005. Ragam Jurnalistik Baru dalam Pemberitaan. Yogyakarta: ANDI

About fannylesmana4communication

I'm a special and simple person. Reading is my habit that I always do in every single time that I have... Novel is the one I love. That's I want to share in this blog is just a little bit that I have known about communication (and journalism also).
This entry was posted in Jurnalistik Dasar. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s