Objektivitas dalam Pemberitaan

Dalam menulis sebuah berita, seorang wartawan harus memiliki sikap objektif. Dengan sikap objektifnya, maka wartawan akan menulis berita yang objektif pula, yakni sesuai dengan kenyataan, tidak berat sebelah dan bebas dari prasangka.[1]

Kaum positivistik melihat wartawan seperti layaknya observer (pelapor). Wartawan hanya bertugas memberitakan apa yang dia lihat dan rasakan selama di lapangan. Realitas yang diberitakan oleh wartawan sama dengan realitas yang sesungguhnya. Wartawan harus mengambil jarak dengan objek yang diliputnya. Dengan pandangan ini, objektivitas pemberitaan diperoleh.[2]

Meski demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa wartawan memiliki sikap objektif sepenuhnya. Bagaimana pun, wartawan adalah individu yang memiliki frame of reference dan field of experience yang tidak sama satu dengan yang lain. Misalnya, dalam hal pemberitaan pemerkosaan terhadap perempuan, maka wartawan perempuan akan lebih berempati dibandingkan wartawan laki-laki. Contoh lain, tidak mudah bagi wartawan yang berasal dari kalangan menengah ke atas untuk menuliskan pemberitaan tentang penggusuran. Dia cenderung akan menggunakan kutipan dari pejabat dibandingkan kutipan dari warga yang tergusur.

Hal tersebut merupakan pandangan dari kaum konstruksionis yang beranggapan wartawan tidak mungkin membuat jarak dengan objek yang diliputnya. Dengan demikian, berita tidak sepenuhnya bisa objektif atau bebas dari bias.

Beberapa hal yang dapat menjadikan bias bagi sebuah pemberitaan adalah: penguasa politik, pemilik modal, ideologi media, stereotype, prasangka, gender. Meski demikian, seorang jurnalis semaksimal mungkin perlu mengedepankan objektivitas dalam melakukan pemberitaan. Karena, objektivitas dalam pemberitaan sangatlah penting bagi sebuah media massa untuk mendapatkan kepercayaan dari khalayak. Artinya, sesulit apapun seorang jurnalis membuat jarak dengan narasumbernya, namun hal itu perlu menjadi pertimbangan dalam menjalankan profesinya.

Objektivitas dalam Pemberitaan

Objektivitas dalam pemberitaan memiliki tiga unsur pokok.[3]

Pertama, unsur keseimbangan yang meliputi keseimbangan jumlah kalimat maupun kata yang digunakan wartawan dalam menyampaikan fakta. Keseimbangan juga mencakup narasumber yang dikutip.

Kedua, unsur kebenaran pokok yang meliputi empat hal, yakni adanya fakta atau peristiwa yang diberitakan, jelas sumbernya, kapan dan dimana terjadinya.

Ketiga, relevansi antara judul berita dengan isi serta kesesuaian antara narasumber yang dipilih dengan tema atau fakta yang diangkat.


[1] Kusumaningrat & Kusumaningrat. 2005. Jurnalistik: Teori & Praktik. Yogyakarta: UII Press, hal. 54

[2] Eriyanto. 2002. Analisis Framing: Konstruksi, Ideologi dan Politik Media. Yogyakarta: LKiS, hal. 29-30

[3] Zen, Fathurin. 2004. NU Politik: Analisis Wacana Media. Yogyakarta: LKiS, hal. 109

About fannylesmana4communication

I'm a special and simple person. Reading is my habit that I always do in every single time that I have... Novel is the one I love. That's I want to share in this blog is just a little bit that I have known about communication (and journalism also).
This entry was posted in Jurnalistik Dasar. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s